Friday, September 27, 2019

Melihat Sudut Pandang Yang Berbeda


Mereka hidup di tengah kota
Bernyanyi-nyanyi tanpa memikirkan habisnya suara
Berkeliling memainkan gitar,
atau hanya dengan tepukan tangan biasa

Demi koin yang bernilai,
Demi mengisi perut yang lemas-terkulai,
Demi perjuangan merubah takdir yang bisa dirubah dengan menggapai

Lusuh, bau, kumal, wajari saja!
Tak ada sosok peran orangtua di dalamnya
Kehidupannya harus diterima dengan mata yang terbuka,
Dengan lapang dada,
Hati yang ikhlas,
Tanpa  merasa terbebani karena terpaksa.








09.10 PM.

Malam semakin larut. Jalanan di kota Sukabumi terlihat lengang. Lampu-lampu yang berjajar di sekitar Masjid Agung sudah mulai dimatikan oleh petugas yang berjaga. Saat itu hanya tersisa anak-anak remaja berpakaian metal, yang sedang duduk dan bernyanyi di Taman Kota, dengan diiringi gitar sebagai pemanis musiknya. Sebagian orang yang mendengar mungkin akan langsung menutup telinga . Atau ada yang mendengus kesal lantas mengumpat dalam hatinya karena merasa terusik. Namun, hanya beberapa persen orang saja yang beranggapan positif atas eksitensi mereka. Termasuk saya. Saya berasumsi, tidak masalah walaupun suara mereka terdengar fals, sumbang, dan untuk dikatakan pas-pasan saja itu belum sampai.  Tetapi, mereka mampu berkreasi walau tak sehebat seorang Musisi. Itulah dunianya. Hidup di tengah-tengah kota, mengamen di setiap persimpangan lalu lintas, dikejar petugas Satpol PP, merasakan perihnya perut kosong, tidur di atas kursi panjang, bertengkar dengan teman seprofesi karena berebut wilayah kekuasaan, serta masih banyak persoalan sulit lainnya yang harus mereka jalani. Tidak ada yang menginginkan kehidupan 'pedih' seperti itu. Karena setiap hal yang terjadi pada dunia ini pasti terselubung sebab dan akibatnya. Karena itu hukum kausalitas. Tidak serba kebetulan. Entah itu sebab yg berasal dari dimensi manusia, atau memang Allah yang sudah menakdirkannya dalam susunan skenario-Nya. 




Sekian.

Love Madhavi,


Kamar lusuh, 2019

Thursday, September 26, 2019

Review Novel "Jemput Aku Jilid I"

Nama : Lisnawati
Ig  : @lisnamadhavi
Ig penulis :@Megamf
Judul Buku : Jemput Aku Jilid 1
Penulis: Mega Milenia Vebriyanti
Penerbit: Mandiri Jaya Publishing
ISBN: 978-602-079-970-4
Tebal Buku: 375 Hal



Buku yang berjudul "Jemput Aku" ini merupakan buku yg isinya bernuansa Romance-Islami. Ketertarikan untuk membaca buku ini muncul dari ambisi hati yang paling relung di dasar sana, karena sebab-sebab tertentu. Salah satu di antaranya , penulis dari Novel yang dikemas dengan cover cantik ini adalah kakak tingkat saya waktu sekolah Madrasah Aliyah dulu. So, siapa sih yang gak mau kepo kaya Dora kalo ternyata orang yang pernah kita kenal, atau bahkan pernah dekat walau sedetik bisa nerbitin buku? Pastinya super kepo dong sama apa yang ia tulis. Yuk, langsung aja kita rangkum.


"Cintailah orang yang kamu cintai dengan cinta pertengahan, karena bisa jadi suatu saat nanti dia akan menjadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu dengan benci pertengahan, karena bisa jadi musuhmu akan menjadi kekasihmu." -H.R Tirmidzi

Sebut saja Bintang Azura. Wanita manis yang saat ini sedang duduk di semester lima di salah satu Universitas ternama di Bandung. Ia hidup dalam keluarga yang sangat hangat dan harmonis. Jika ada dalam realita, mungkin banyak daftar list orang yang memendam rasa iri pada keluarga Bintang. Ia mempunyai Umi dan Abi yang sangat menyayanginya. Dan ada dua orang lelaki selain Abi yang tinggal satu atap dengannya, yang  bukan hanya bernotaben baik, tetapi juga pelindung siaga yang herois. Sebutlah mereka kakaknya.

Di tengah kesibukannya menjalani kuliah, Bintang selalu menyempatkan dirinya untuk mengikuti kajian bulanan di salah satu masjid besar yang ada di  Kota Bandung. Dia tidak pergi sendiri. Tetapi dengan sahabatnya, Lala. Kemana pun langkah Bintang pergi, selalu ada  Lala di belakangnya. 
 

"Saya hanya ingin berbagi ilmu dengan orang-orang yang serius, bukan orang yang hanya iseng dan ikut-ikutan saja. Kalo kalian tidak serius, lebih baik keluar!" 

Ngilu. Kalimat itu masih terngiang betul di telinga Bintang saat mengikuti kajian bersama Lala. Ucapan itu keluar dari mulut seorang penceramah muda karna ulah sahabat Bintang, yg terus saja mengajaknya mengobrol. Sial memang.

Esoknya Bintang ada jadwal kuliah pagi. Entah ada badai dari mana, dosen mata kuliahnya tidak bisa hadir untuk mengajar selama 6 bulan, sehingga digantikan oleh anak buahnya. Dan, tahu siapa yang jadi penggantinya? Manusia yang kemarin sudah menjadi daftar list urutan pertama yang tidak ingin ia temui selama hidupnya. Ya, Aldin Ibrahim Haikal.

Karena ..

Orang yang tidak ingin kamu temui, lebih berpotensi memiliki kesempatan  bertemu denganmu lebih sering dari biasanya. Kenapa? Karena hidup, tak selalu tentang apa yang kamu mau.

Setiap hari ada saja yang membuat Bintang kesal. Dosen yang dicapnya galak itu berhasil menciptakan rasa ketika bertemu. Menyebalkan, namun mendebarkan. Hingga suatu hari, pada waktu yang tak Bintang duga, ada seseorang yang datang tanpa aba-aba. Seseorang yg datang dari masa lalunya setelah 6 tahun silam meninggalkannya pergi.

Siapakah dia?? Ya, dia Zidan. Sahabat, sekaligus orang yang Bintang selama ini tunggu-tunggu.  Niatnya ingin melamar Bintang terurungkan karena sudah ada orang yang satu langkah lebih maju mendahuluinya. 

Di sisi lain pun sama. Ada seseorang dari masalalu Aldin yg tiba-tiba datang, di tengah harmonisnya pernikahan. Perempuan itu mengakui kalo dirinya masih mencintai Aldin, di saat dirinya sedang dilanda sakit yang bukan main. Bahkan dia tak segan akan merusak rumah tangga Aldin jika dia tidak bisa mendapatkanya. 

 Bintang sedikit demi sedikit merasakan pahit yg luar biasa setelah mengetahui kejadian itu. Dia memohon kepada Allah agar diberi petunjuk atas permasalahan dalam pernikahannya. 

Sampai suatu hari, bintang mengeluarkan ucapan yang tak pernah disangka-sangka selama ini.

"Bintang siap dimadu, A."

Yeaaayy Jemput Aku Jilid I selesaaai .. bagaimana kelanjutan  ceritanya?? Apakah Aldin menyetujui, atau malah memarahi karna tak terima dengan ucapan Bintang?
InsyaaAllah lanjut review setelah selesai baca buku jilid 2 yaaa


See U next time.


Love, Madhavi







 




Wednesday, September 11, 2019

Untuk Menjadi Baik, Tidak Harus Menunggu Dewasa

Tak perlu merencanakan untuk berbuat baik di kemudian hari. Sebab mulanya kebaikan bisa diperoleh dari hal-hal yang kecil. Tidak untuk ditunggu, apalagi menunggu. Sekarang. Sebelum nanti malas, sebelum tiba hati mengeras. --Lisnawati


Salsa's Stories🍃

"Panggil aja Salsa", katanya. Dia merupakan anak kecil yang aku temui di Mesjid At-Tin, TMII, Jakarta Timur. Kebetulan saat selesai mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat Maghrib, aku tertangkap basah olehnya,  karena dia melihat wajahku yang sedang kebingungan  seperti mencari sesuatu mungkin.

Dengan langkah yang terbirit-birit, dia  berjalan menghampiriku.

" Maaf Mbak, lagi nyari mukena, ya?"  Tanyanya dengan nada sangat rendah, namun masih dapat ku dengar

"Eh, anuu. Ii-yya, Dek." Jawabku dengan ekspresi yang sedikit gugup. Duh, kenapa bisa gugup begini sih, cuma jawab pertanyaan ringan gitu aja.

" Mau gak minjem?" Dia mengulurkan mukena yang ada di tangannya padaku.

"Emang ini punya siapa?" Tanyaku sedikit ragu melihat dirinya memakai mukena, sedangkan di tangannya ada dua mukena lain yang dia pegang. 

"Punya aku." Jawabnya dengan senyum yang sangat menggemaskan.

Benarkah punyanya? Apakah adik kecil ini sengaja membawa beberapa mukena untuk dipinjamkan?
Ahh, sungguh mulia jika memang iya. 

Melihat waktu Maghrib tinggal tersisa beberapa menit lagi,  langsung saja aku meraih mukena dari tangan mungilnya. 
Maha Besar Allah,  saat memulai rakaat pertama takbiratul ihram, rasanya hati bergetar, dan lebih khusyuk'. Suasana di mesjid ini begitu nyaman. Seolah ada magnet tersendiri yang menarik agar jama'ah tidak berpaling kepada selain-Nya.

Selesai berdoa, aku menoleh ke belakang . Ternyata, Anak baik itu tidak sendiri. Dia bersama lima orang  teman sebayanya yang sedang bercanda-ria di teras mesjid. Aku amati sekilas dari dalam, sepertinya itu kawannya. 

Jam menunjukan pukul 18.45 PM. Resepsi dimulai ba'da Isya'. Masih ada waktu sekitar lima belas menit lagi untuk menunggu adzan. Kebetulan rencanannya akan sekalian melaksanakan shalat Isya' di sini. 
Entah mengapa,  rasanya seperti ada gelagat hati yang mendorongku untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang mereka. 

Dengan senyum yang merekah, dari kejauhan mereka menatapku. Melambaikan tangan memberi kontak agar aku segera kesana. Aku bangkit dari karpet hijau yang menjadi alas mayoritas ummat muslim untuk beribadah. 

Namun, baru lima langkah bergegas menghampirinya, tiba-tiba saja senyum mereka kecut. Raut wajahnya lebih terlihat kaget, bahkan berlari melesat secepat kilat.

Astagfirullaah, ada apa ? Apa wajahku sehorror ini? 

Aku mematung. Menepuk-nepuk kedua pipiku. Memastikan kalo wajahku baik-baik saja.


"Dasar bocah ya! "

"Hey! Mau kemanaa?! Awas ya!

Tubuhku terhentak saat melihat seorang yang mengenakan seragam Security sedang marah-marah, tetapi tidak tahu siapa yang dimarahinya itu. 


Bentar-bentar. Apa iya? Tapi, kenapa? 

Pikiranku tertuju pada kejadian mereka barusan. 
Aku langsung bergegas mencari mereka di area mesjid yang cukup luas ini. Dan, akhirnya tidak sulit.



***
Setelah tahu ceritanya dari Salsa, ternyata, dia dan teman-temannya adalah anak-anak yg suka mengaji di mesjid At-Tin dari Maghrib hingga Isya. Mereka sengaja dari rumah membawa beberapa mukena bersih untuk dipinjamkan ke orang  lain yang akan shalat di sana. Alasannya karna mukena yang disediakan di mesjid sana hanya sedikit. Kasihan katanya melihat orang-orang yang mau shalat, harus mengantri terlebih dahulu. Khususnya para pendatang dari luar DKI. Namun,  kebiasaannya membawa mukena itu ternyata tidak semulus jalan yang mereka kira. Setiap meminjamkan mukena kepada orang lain, Satpam yang berjaga di sana selalu marah jika melihatnya. Katanya, mukena di mesjid juga banyak. Padahal yg tersedia tidak mencukupi kapasitas yang ada. Dapat dihitung dengan jari mungkin. Yaa Allah. 


Jika dipikir secara nurani, anak-anak di sana lebih tahu dan respect, mana yg lebih utama  harus dilakukan. Membiarkan orang lain mengantri, lalu tertinggal banyak waktu shalat, sehingga masbuk,  atau menolong orang lain dengan sedikit mengorbankan mukenannya? Bahkan mungkin ada yg bisa berjama'ah, karena mukena yg mereka pinjamkan. 

Pahala mengalir deras pada kalian, Dek.


Love, Madhavi


Jakarta, [25/11]








Tuesday, September 10, 2019

"Manusia diciptakan untuk berpikir, bergerak, berdimensi, dan berkreasi dengan ribuan ide yang tak akan ada habisnya. Allah anugrahi itu semua dalam satu wadah. Akal namanya. Maka, syukuri dan gunakanlah sebaik-baiknya." --Lisnawati 

Pengamen yang naik ke dalam Bis jurusan [Bogor-Pelabuhan Ratu] ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan pengamen yang biasa aku temui di Bis sebelumnya. Bukan dari suaranya saat ia bernyanyi, bukan. Tetapi cara ia meminta 'apresiasi' dari penumpang yang cukup menarik perhatian.


Aku perhatikan, sebelum ia bernyanyi, Pengamen itu mengeluarkan beberapa amplop dari saku celana jeansnya. Amplopnya kecil sekali. Kalau diukur secara perkiraan sama dengan foto yang berukuran 2R. Ia berjalan ke belakang, lalu membagikan amplop itu ke setiap penumpang yang duduk di kursi kanan-kiri Bis. Saat  menyanyikan lagu Secawan Madu, suaranya memang terdengar pas-pasan, tetapi masih bisa dinikmati karna improvisasi yang ia buat. Lima menit lagu itu selesai, pengamen itu mengambil kembali amplop  yang ada di tangan para penumpang. Entah semua penumpang mengisi amplopnya atau tidak. Yang jelas, ada magnet tersendiri yang membuatku ingin mengisinya. 

Sekilas bisa ditarik kesimpiulan, cara ini lebih efektif daripada meyodorkan menggunakan sejenis kantong permen, atau yg lainya. Biasanya kita ragu-ragu, enggan, atau takut saat ingin mengisi kantongnya si Pengamen. Entah itu alibi "Gak ada receh" atau takut dengan si Pengamen yang terlihat brutal. Tetapi dengan cara ini, kita bebas mau mengisi berapa pun nominalnya. Ini juga seolah-olah menjadi gift bagi si Pengamen. Amplop yg sudah dikumpulkan pasti menjadi rasa penasaran yg menggebu karna ingin tahu berapa isinya. Ia akan sangat bahagia tatkala membuka amplop ternyata terisi, bahkan nominalnya besar tak terduga. Mungkin tidak sedikit orang yang ingin bershadaqoh melalui Pengamen itu, namun tak ingin diketahui banyak orang, Sehingga menjadi kejutan tersendiri bagi si Pengamen. Dan jika amplop yang dibukanya ternyata kosong, ini tidak akan terlalu membuatnya  kecewa. Sebab lebih kecewa dan sakit hati ketika meminta 'apresiasi' di depan umum, namun tak ada yg menanggapi dan peduli untuk memberi. Walaupun mereka sudah menganggap itu hal yang biasa.


Belum pernah merasakan, namun sedikit-banyaknya bisa membaca keadaan. 

Hayoo, pengamen saja dari hal yang kecil bisa kreatif, apa kabar dengan anda?



Nb: Pengamen ditulis di depannya menggunakan huruf kapital ya, karna menurutku Pengamen juga merupakan sebuah profesi. Mohon maaf jika tulisan ini membuat hati para pembaca tidak enak, atau tersinggung. 🙏




Analysis Short Story " A Jury of Her Peers by Susan Glaspell"-Lisnawati

  Analisys of A Jury of Her Peers   Oleh : Lisnawati  ·              A jury of Her Peers merupakan sebuah cerita pendek terbitan Ameri...