Tuesday, September 10, 2019

"Manusia diciptakan untuk berpikir, bergerak, berdimensi, dan berkreasi dengan ribuan ide yang tak akan ada habisnya. Allah anugrahi itu semua dalam satu wadah. Akal namanya. Maka, syukuri dan gunakanlah sebaik-baiknya." --Lisnawati 

Pengamen yang naik ke dalam Bis jurusan [Bogor-Pelabuhan Ratu] ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan pengamen yang biasa aku temui di Bis sebelumnya. Bukan dari suaranya saat ia bernyanyi, bukan. Tetapi cara ia meminta 'apresiasi' dari penumpang yang cukup menarik perhatian.


Aku perhatikan, sebelum ia bernyanyi, Pengamen itu mengeluarkan beberapa amplop dari saku celana jeansnya. Amplopnya kecil sekali. Kalau diukur secara perkiraan sama dengan foto yang berukuran 2R. Ia berjalan ke belakang, lalu membagikan amplop itu ke setiap penumpang yang duduk di kursi kanan-kiri Bis. Saat  menyanyikan lagu Secawan Madu, suaranya memang terdengar pas-pasan, tetapi masih bisa dinikmati karna improvisasi yang ia buat. Lima menit lagu itu selesai, pengamen itu mengambil kembali amplop  yang ada di tangan para penumpang. Entah semua penumpang mengisi amplopnya atau tidak. Yang jelas, ada magnet tersendiri yang membuatku ingin mengisinya. 

Sekilas bisa ditarik kesimpiulan, cara ini lebih efektif daripada meyodorkan menggunakan sejenis kantong permen, atau yg lainya. Biasanya kita ragu-ragu, enggan, atau takut saat ingin mengisi kantongnya si Pengamen. Entah itu alibi "Gak ada receh" atau takut dengan si Pengamen yang terlihat brutal. Tetapi dengan cara ini, kita bebas mau mengisi berapa pun nominalnya. Ini juga seolah-olah menjadi gift bagi si Pengamen. Amplop yg sudah dikumpulkan pasti menjadi rasa penasaran yg menggebu karna ingin tahu berapa isinya. Ia akan sangat bahagia tatkala membuka amplop ternyata terisi, bahkan nominalnya besar tak terduga. Mungkin tidak sedikit orang yang ingin bershadaqoh melalui Pengamen itu, namun tak ingin diketahui banyak orang, Sehingga menjadi kejutan tersendiri bagi si Pengamen. Dan jika amplop yang dibukanya ternyata kosong, ini tidak akan terlalu membuatnya  kecewa. Sebab lebih kecewa dan sakit hati ketika meminta 'apresiasi' di depan umum, namun tak ada yg menanggapi dan peduli untuk memberi. Walaupun mereka sudah menganggap itu hal yang biasa.


Belum pernah merasakan, namun sedikit-banyaknya bisa membaca keadaan. 

Hayoo, pengamen saja dari hal yang kecil bisa kreatif, apa kabar dengan anda?



Nb: Pengamen ditulis di depannya menggunakan huruf kapital ya, karna menurutku Pengamen juga merupakan sebuah profesi. Mohon maaf jika tulisan ini membuat hati para pembaca tidak enak, atau tersinggung. 🙏




4 comments:

  1. Nice teh..
    Pengamen yg pintar, sepertinya ia benar2 ingin membuat semua hati tenang, termasuk dirinya

    ReplyDelete

Analysis Short Story " A Jury of Her Peers by Susan Glaspell"-Lisnawati

  Analisys of A Jury of Her Peers   Oleh : Lisnawati  ·              A jury of Her Peers merupakan sebuah cerita pendek terbitan Ameri...