![]() |
| Upnormal Coffee, 17 Okt. 2019 |
Kenangan
jika tak dikenang, akan berlalu menjadi peristiwa biasa yang tak berarti. Menjelma
menjadi album-album tanpa foto. Kosong tak berisi, berdebu, hingga akhirnya
mudah untuk dilupakan. Itulah mengapa, dilahirkannya peringatan hari Pahlawan.
Agar diingat, agar menolak untuk lupa.
Begitu pun dengan kamu. mengenangmu,
sesungguhnya pahit. Sepahit kopi khas kafe di seberang jalan sana.
****
02.00 PM.
Aku sedang ada mata kuliah
Phonology di kampus. Mengupas tuntas sejarah ilmu Bahasa memang buat suntuk
mata jika dibahas di siang hari begini. Aku yang biasanya sengaja duduk di
bangku paling depan agar tetap focus, tetapi hari ini, rasanya mata dan
telingaku sudah tidak bisa sinkron
lagi. Tanganku, ku jadikan tumpuan di dagu agar tubuhku tidak goyah. Tiba-tiba,
ponselku begetar mengenyahkan rasa kantuk ku.
Satu pesan WhatsApp masuk.
"Dimana? Aku udah mau deket
Sukabumi, nih."
Read.
Aku membaca pesan dari seseorang
yang sudah merencanakan janji untuk bertemu denganku.
Tanganku berusaha mengetik pesan
secara diam-diam. Menyelundupkan ponselku di antara lengan dan ketiak sebelah
kiri ku.
"Masih ada matkul. Bentar lagi
beres." Balasku dengan cepat.
"Oke." Balasnya singkat.
Di depanku, Pak Dosen sedang duduk
menghadap layar presentasi. Jujur, aku kurang begitu suka dengan Dosen yang
satu ini. Entah karena cara mengajarnya yang terkesan monoton, atau memang
dasarnya aku gak pernah suka dengan yang namanya sejarah. sekalipun tahu bahwa
sejarah itu penting. Tapi, ahh .. entahlah. Menurutku, belajar sejarah itu
jenuh. ngantuk. Perlu metode baru yang cocok untuk typikal orang-orang malas
sepertiku.
Aku terus membuka ponsel untuk
sekedar melihat jam. Seharusnya matkul selesai dari tujuh menit yang lalu.
"Ci, ini dosen kapan beresnya,
sih?" Aku berbisik ke teman yang ada di sebelahku.
"Tau nih, korupsi waktu."
Ucapnya memonyongkan bibir.
Saat para mahasiswa di belakang
berdecak memberikan kode, barulah mata kuliah diakhiri. Dengan pembacaan
Hamdallah tentunya.
Tanpa basa-basi, aku langsung
keluar kelas terlebih dahulu. Seharusnya aku mengikuti kumpulan pemilihan Duta
Kampus dengan kakak tingkat, namun, bagiku itu sama sekali not interesting. Tiada yang lebih penting dari pertemuan dua insan
yang sedang jatuh cinta. Hahaha ..
Aku
sedikit berlari menuruni tangga, menerobos lorong gedung kampus, karena
khawatir dia sampai lebih dulu di tempat yang sudah dijanjikan sedari awal.
Yang menjadi masalah, ini pertama kalinya Ia menginjakkan kaki di tanah
Sukabumi.
Sambil menunggu angkutan umum, aku
memilih menunggu di Halte Dago. Melihat tukang asinan di depanku yang
menggunakan gerobak, aku berniat untuk membeli. Aku meminta si Amang agar tidak
perlu mengantongi buah-buahanku menggunakan plastik, karena kebetulan aku
membawa kotak makanan kosong. Hanya mengeluarkan beberapa lembar uang rupiah,
potongan buah Pepaya dan Semangka sudah memenuhi kotak makananku. Yeay!
Setelah menerima uang kembalianku,
aku langsung menaikki angkot. Perjalanan bertemu seseorang membutuhkan waktu
sekitar 15 menit. Suasana angkot yang berdesakan. Aku duduk di kursi kecil di
dekat pintu. terhimpit oleh dua manusia yang badannay cukup besar. Fiuh! Rasanya
ingin melompat keluar agar terbebas dari kesesakan hidup ini.
"Udah dimana itu, Mas?"
Aku melayangkan pesan WhatsApp padanya.
"Gak tahu dimana, Mbak. Aku
mendadak Amnesia😀" balasnya dengan menambahkan emoticon tertawa.
"Ih, serius deh. Aku balik
lagi nih …" ucapku mendengus kesal.
"Lho, aku kan emang bener
bukan orang sini." ujarnya.
"Serah, ah!" kataku tak
peduli.
****
Aku turun dari mobil, tepatnya di
RS. Hermina Kota Sukabumi. Dengan segera aku memakai masker penutup wajah.
Sengaja, biar tak mudah dikenal olehnya.
Padatnya lalu lalang kendaraan
menyebabkan pejalan kaki susah untuk menyebrang. Lama menunggu orang 'baik' yang mau membantuku untuk
menyebrang, Tiba-tiba, aku melihat bus yang berhenti di seberang jalan. datang
dari arah Utara. Bus yang bertuliskan jurusan Bandung-Sukabumi tertera di kaca
depan mobil.
Di seberang
jalan, ada yang menarik perhatianku dari kejauhan. Seseorang yang turun dari
tangga Bus. Mengenakan kemeja biru tua, celana hitam kulot panjang, dan ransel
yang Ia bawa di lengan tangan kanannya. Ia belum ‘ngeh’ dengan keberadaanku. Ia
malah masuk ke sebuah mini market yang ada di depan Rumah Sakit.
Aku menyebrangi
jalan dengan hati-hati. Duduk di kursi yang telah tersedia di depan mini
market. Berusaha mengatur pernafasan, merapihkan pakaian, tapi rasanya entah
mengapa masih saja deg-degan gak karuan.
Saat aku
melihatnya keluar membawa dua buah botol minuman dingin, Ia berjalan menunduk
menatap ponselnya. Aku menduga sepertinya Ia mengirimkan pesan kepadaku. Dan yeah
benar, ponselku bergetar tanda ada notifikasi pesan WhatsApp.
“ Udah
nyampe. Aku tunggu ya depan mini market.” Ucapnya.
“Iya,
tahu kok. Coba kepalanya angkat sedikit. Liat sesorang di depanmu.” Balasku
dengan mengulum senyuman. Lebih tepatnya menahan ketawa sih.
Dia menyadarinya,
lantas Ia menghampiriku. Aku berdiri
menghadapnya. Tangannya terasa menyentuh jilbab yang ku kenakan. Ia melepas
tali masker yang kukenakan.
Aku meraih
tangannya di sela-sela Ia membuka maskerku, mengusap wajahku. Aku menciummi
aroma telapak tangannya yang khas. Kini, aku kembali bertemu seseorang yang terakhir
kali bertemu 6 bulan lalu di Kota Kembang.
Kita
saling menatap tanpa kata. Rindu. Mungkin hanya itu. Hanya kita berdua yang
memahami.
Selamat mengenang.
18
Ramadhan 1441 H.

No comments:
Post a Comment