Thursday, May 28, 2020

Bus, Mini market, dan Seseorang di Seberang Jalan





Upnormal Coffee, 17 Okt. 2019








Kenangan jika tak dikenang, akan berlalu menjadi peristiwa biasa yang tak berarti. Menjelma menjadi album-album tanpa foto. Kosong tak berisi, berdebu, hingga akhirnya mudah untuk dilupakan. Itulah mengapa, dilahirkannya peringatan hari Pahlawan. Agar diingat, agar menolak untuk lupa.




Begitu pun dengan kamu. mengenangmu, sesungguhnya pahit. Sepahit kopi khas kafe di seberang jalan sana. 









****



02.00 PM.



Aku sedang ada mata kuliah Phonology di kampus. Mengupas tuntas sejarah ilmu Bahasa memang buat suntuk mata jika dibahas di siang hari begini. Aku yang biasanya sengaja duduk di bangku paling depan agar tetap focus, tetapi hari ini, rasanya mata dan telingaku sudah tidak bisa sinkron lagi. Tanganku, ku jadikan tumpuan di dagu agar tubuhku tidak goyah. Tiba-tiba, ponselku begetar mengenyahkan rasa kantuk ku. 





Satu pesan WhatsApp masuk.



"Dimana? Aku udah mau deket Sukabumi, nih." 



Read.



Aku membaca pesan dari seseorang yang sudah merencanakan janji untuk bertemu denganku.

Tanganku berusaha mengetik pesan secara diam-diam. Menyelundupkan ponselku di antara lengan dan ketiak sebelah kiri ku. 



"Masih ada matkul. Bentar lagi beres." Balasku dengan cepat. 



"Oke." Balasnya singkat.  



Di depanku, Pak Dosen sedang duduk menghadap layar presentasi. Jujur, aku kurang begitu suka dengan Dosen yang satu ini. Entah karena cara mengajarnya yang terkesan monoton, atau memang dasarnya aku gak pernah suka dengan yang namanya sejarah. sekalipun tahu bahwa sejarah itu penting. Tapi, ahh .. entahlah. Menurutku, belajar sejarah itu jenuh. ngantuk. Perlu metode baru yang cocok untuk typikal orang-orang malas sepertiku.



Aku terus membuka ponsel untuk sekedar melihat jam. Seharusnya matkul selesai dari tujuh menit yang lalu.



"Ci, ini dosen kapan beresnya, sih?" Aku berbisik ke teman yang ada di sebelahku. 



"Tau nih, korupsi waktu." Ucapnya memonyongkan bibir. 





Saat para mahasiswa di belakang berdecak memberikan kode, barulah mata kuliah diakhiri. Dengan pembacaan Hamdallah tentunya. 

Tanpa basa-basi, aku langsung keluar kelas terlebih dahulu. Seharusnya aku mengikuti kumpulan pemilihan Duta Kampus dengan kakak tingkat, namun, bagiku itu sama sekali not interesting. Tiada yang lebih penting dari pertemuan dua insan yang sedang jatuh cinta. Hahaha ..  



Aku sedikit berlari menuruni tangga, menerobos lorong gedung kampus, karena khawatir dia sampai lebih dulu di tempat yang sudah dijanjikan sedari awal. Yang menjadi masalah, ini pertama kalinya Ia menginjakkan kaki di tanah Sukabumi.



Sambil menunggu angkutan umum, aku memilih menunggu di Halte Dago. Melihat tukang asinan di depanku yang menggunakan gerobak, aku berniat untuk membeli. Aku meminta si Amang agar tidak perlu mengantongi buah-buahanku menggunakan plastik, karena kebetulan aku membawa kotak makanan kosong. Hanya mengeluarkan beberapa lembar uang rupiah, potongan buah Pepaya dan Semangka sudah memenuhi kotak makananku. Yeay! 





Setelah menerima uang kembalianku, aku langsung menaikki angkot. Perjalanan bertemu seseorang membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Suasana angkot yang berdesakan. Aku duduk di kursi kecil di dekat pintu. terhimpit oleh dua manusia yang badannay cukup besar. Fiuh! Rasanya ingin melompat keluar agar terbebas dari kesesakan hidup ini.



"Udah dimana itu, Mas?" Aku melayangkan pesan WhatsApp padanya. 



"Gak tahu dimana, Mbak. Aku mendadak Amnesia😀" balasnya dengan menambahkan emoticon tertawa.



"Ih, serius deh. Aku balik lagi nih …" ucapku mendengus kesal. 



"Lho, aku kan emang bener bukan orang sini." ujarnya.



"Serah, ah!" kataku tak peduli.







****



Aku turun dari mobil, tepatnya di RS. Hermina Kota Sukabumi. Dengan segera aku memakai masker penutup wajah. Sengaja, biar tak mudah dikenal olehnya. 



Padatnya lalu lalang kendaraan menyebabkan pejalan kaki susah untuk menyebrang. Lama menunggu orang 'baik' yang mau membantuku untuk menyebrang, Tiba-tiba, aku melihat bus yang berhenti di seberang jalan. datang dari arah Utara. Bus yang bertuliskan jurusan Bandung-Sukabumi tertera di kaca depan mobil. 



Di seberang jalan, ada yang menarik perhatianku dari kejauhan. Seseorang yang turun dari tangga Bus. Mengenakan kemeja biru tua, celana hitam kulot panjang, dan ransel yang Ia bawa di lengan tangan kanannya. Ia belum ‘ngeh’ dengan keberadaanku. Ia malah masuk ke sebuah mini market yang ada di depan Rumah Sakit.



Aku menyebrangi jalan dengan hati-hati. Duduk di kursi yang telah tersedia di depan mini market. Berusaha mengatur pernafasan, merapihkan pakaian, tapi rasanya entah mengapa masih saja deg-degan gak karuan.



Saat aku melihatnya keluar membawa dua buah botol minuman dingin, Ia berjalan menunduk menatap ponselnya. Aku menduga sepertinya Ia mengirimkan pesan kepadaku. Dan yeah benar, ponselku bergetar tanda ada notifikasi pesan WhatsApp.



“ Udah nyampe. Aku tunggu ya depan mini market.” Ucapnya.



“Iya, tahu kok. Coba kepalanya angkat sedikit. Liat sesorang di depanmu.” Balasku dengan mengulum senyuman. Lebih tepatnya menahan ketawa sih.



Dia menyadarinya, lantas Ia menghampiriku. Aku  berdiri menghadapnya. Tangannya terasa menyentuh jilbab yang ku kenakan. Ia melepas tali masker yang kukenakan.

Aku meraih tangannya di sela-sela Ia membuka maskerku, mengusap wajahku. Aku menciummi aroma telapak tangannya yang khas. Kini, aku kembali bertemu seseorang yang terakhir kali bertemu 6 bulan lalu di Kota Kembang.





Kita saling menatap tanpa kata. Rindu. Mungkin hanya itu. Hanya kita berdua yang memahami.









Selamat mengenang.







18 Ramadhan 1441 H.
































































No comments:

Post a Comment

Analysis Short Story " A Jury of Her Peers by Susan Glaspell"-Lisnawati

  Analisys of A Jury of Her Peers   Oleh : Lisnawati  ·              A jury of Her Peers merupakan sebuah cerita pendek terbitan Ameri...