Wednesday, September 11, 2019

Untuk Menjadi Baik, Tidak Harus Menunggu Dewasa

Tak perlu merencanakan untuk berbuat baik di kemudian hari. Sebab mulanya kebaikan bisa diperoleh dari hal-hal yang kecil. Tidak untuk ditunggu, apalagi menunggu. Sekarang. Sebelum nanti malas, sebelum tiba hati mengeras. --Lisnawati


Salsa's Stories๐Ÿƒ

"Panggil aja Salsa", katanya. Dia merupakan anak kecil yang aku temui di Mesjid At-Tin, TMII, Jakarta Timur. Kebetulan saat selesai mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat Maghrib, aku tertangkap basah olehnya,  karena dia melihat wajahku yang sedang kebingungan  seperti mencari sesuatu mungkin.

Dengan langkah yang terbirit-birit, dia  berjalan menghampiriku.

" Maaf Mbak, lagi nyari mukena, ya?"  Tanyanya dengan nada sangat rendah, namun masih dapat ku dengar

"Eh, anuu. Ii-yya, Dek." Jawabku dengan ekspresi yang sedikit gugup. Duh, kenapa bisa gugup begini sih, cuma jawab pertanyaan ringan gitu aja.

" Mau gak minjem?" Dia mengulurkan mukena yang ada di tangannya padaku.

"Emang ini punya siapa?" Tanyaku sedikit ragu melihat dirinya memakai mukena, sedangkan di tangannya ada dua mukena lain yang dia pegang. 

"Punya aku." Jawabnya dengan senyum yang sangat menggemaskan.

Benarkah punyanya? Apakah adik kecil ini sengaja membawa beberapa mukena untuk dipinjamkan?
Ahh, sungguh mulia jika memang iya. 

Melihat waktu Maghrib tinggal tersisa beberapa menit lagi,  langsung saja aku meraih mukena dari tangan mungilnya. 
Maha Besar Allah,  saat memulai rakaat pertama takbiratul ihram, rasanya hati bergetar, dan lebih khusyuk'. Suasana di mesjid ini begitu nyaman. Seolah ada magnet tersendiri yang menarik agar jama'ah tidak berpaling kepada selain-Nya.

Selesai berdoa, aku menoleh ke belakang . Ternyata, Anak baik itu tidak sendiri. Dia bersama lima orang  teman sebayanya yang sedang bercanda-ria di teras mesjid. Aku amati sekilas dari dalam, sepertinya itu kawannya. 

Jam menunjukan pukul 18.45 PM. Resepsi dimulai ba'da Isya'. Masih ada waktu sekitar lima belas menit lagi untuk menunggu adzan. Kebetulan rencanannya akan sekalian melaksanakan shalat Isya' di sini. 
Entah mengapa,  rasanya seperti ada gelagat hati yang mendorongku untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang mereka. 

Dengan senyum yang merekah, dari kejauhan mereka menatapku. Melambaikan tangan memberi kontak agar aku segera kesana. Aku bangkit dari karpet hijau yang menjadi alas mayoritas ummat muslim untuk beribadah. 

Namun, baru lima langkah bergegas menghampirinya, tiba-tiba saja senyum mereka kecut. Raut wajahnya lebih terlihat kaget, bahkan berlari melesat secepat kilat.

Astagfirullaah, ada apa ? Apa wajahku sehorror ini? 

Aku mematung. Menepuk-nepuk kedua pipiku. Memastikan kalo wajahku baik-baik saja.


"Dasar bocah ya! "

"Hey! Mau kemanaa?! Awas ya!

Tubuhku terhentak saat melihat seorang yang mengenakan seragam Security sedang marah-marah, tetapi tidak tahu siapa yang dimarahinya itu. 


Bentar-bentar. Apa iya? Tapi, kenapa? 

Pikiranku tertuju pada kejadian mereka barusan. 
Aku langsung bergegas mencari mereka di area mesjid yang cukup luas ini. Dan, akhirnya tidak sulit.



***
Setelah tahu ceritanya dari Salsa, ternyata, dia dan teman-temannya adalah anak-anak yg suka mengaji di mesjid At-Tin dari Maghrib hingga Isya. Mereka sengaja dari rumah membawa beberapa mukena bersih untuk dipinjamkan ke orang  lain yang akan shalat di sana. Alasannya karna mukena yang disediakan di mesjid sana hanya sedikit. Kasihan katanya melihat orang-orang yang mau shalat, harus mengantri terlebih dahulu. Khususnya para pendatang dari luar DKI. Namun,  kebiasaannya membawa mukena itu ternyata tidak semulus jalan yang mereka kira. Setiap meminjamkan mukena kepada orang lain, Satpam yang berjaga di sana selalu marah jika melihatnya. Katanya, mukena di mesjid juga banyak. Padahal yg tersedia tidak mencukupi kapasitas yang ada. Dapat dihitung dengan jari mungkin. Yaa Allah. 


Jika dipikir secara nurani, anak-anak di sana lebih tahu dan respect, mana yg lebih utama  harus dilakukan. Membiarkan orang lain mengantri, lalu tertinggal banyak waktu shalat, sehingga masbuk,  atau menolong orang lain dengan sedikit mengorbankan mukenannya? Bahkan mungkin ada yg bisa berjama'ah, karena mukena yg mereka pinjamkan. 

Pahala mengalir deras pada kalian, Dek.


Love, Madhavi


Jakarta, [25/11]








5 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Maaf th aku komen typo terus he
    Cerita th lisna memang selalu bagus ๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihiii .. kaget udah 3 komen aja, pas diliat ternyata punya teh Yulia semua. Terimakasih apresiasinya. Mohon kritik dan saran ๐Ÿ™

      Delete
  4. ternyata KMP Batch2 memang mempunyai calon penulis-penulis hebat, yang bisa memabaca moment dengan baik dan menuliskannya dengan baik pula, lengkap dengan hitungan waktu, perasaan dan tak lupa dengan pesan di akhirnya.

    hoalah, aku jadi penasaran. kenapa di Mesjid yang namanya di ambil dari nama surat dalam al Qur'an, juga tidak lain adalah nama Istri dari Presiden terlama di Indonesia itu, kenapa harus ada kejadian seperti ini, kenapa terkesan anak-anak kecil lebih peka terhadap apa yang biasa terjadi disana, kenapa security yg seharunya lebih sering disana, malah bertindak sebagai antagonis ?????

    wah, wah wah

    ReplyDelete

Analysis Short Story " A Jury of Her Peers by Susan Glaspell"-Lisnawati

  Analisys of A Jury of Her Peers   Oleh : Lisnawati  ·              A jury of Her Peers merupakan sebuah cerita pendek terbitan Ameri...